Langsung ke konten utama

Ibuku Sayang

 

Ibuku Sayang

Karya : Krisentia Aprilyani

Kelas XII IPS 2

SMA Virgo Fidelis Bawen

Nama ku Krisentia Aprilyani di rumah aku lebih akrab dipanggil dengan Lia sedangkan di sekolah aku lebih sering dipanggil dengan nama Krisent,karena sejak SMP teman-teman ku lebih senang mamanggilku Krisent,Aku adalah anak terakhir dari tiga bersaudara dan aku adalah satu-satunya anak perempuan di dalam keluarga ku.

Aku lahir di sebuah keluarga yang sederhana ayahku memiliki usaha mebel di rumah dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga,tetapi penghasilan kedua orang tua ku cukup untuk memenuhi kehidupan kami sehari-hari. Saat ini kondisi ekonomi di keluarga ku lebih baik dari pada dahulu,jadi aku lebih bersyukur dengan apa yang telah di berikan Tuhan lewat keluarga ku walau aku tidak seperti teman-teman ku yang lain.

Aku mempunyai sebuah kisah yang sampai sekarang masih terus ku ingat yaitu ketika aku berumur enam atau tujuh tahun dan saat itu aku masih duduk di bangku kelas satu SD. Hari minggu pagi aku pergi bermain bersama teman-teman yang ada di desa ku.Kami bermain sepeda saat itu daking asiknya bermain aku tidak tau hal apa yang sedang terjadi di rumahku saat itu karena saat aku sendang mangayuh sepeda menyusuri jalan kecil ada seorang perempuan muda yang menghampiriku dan berkata kepada ku “ Lia,ibu mu tibo kae loo..” aku yang mendengar ucapan perempuan tadi langsung pergi dari tempat itu dan pulang kerumah ku di pertengahan jalan aku bertemu dengan seorang laki-laki yang sudah dewasa tetapi dia memiliki gangguan jiwa dan dia berjalan sambil menangis dan dia juga berkata kepadaku “Mak mu kae lo ya..”.Aku tidak menanggapi ucapannya tetapi dalam hati k uterus bertanya “apa yang terjadi dengan ibuku sekarang?”.Saat aku sampai di depan rumah sudah banyak orang berada di sekitar rumahku dan saat aku masuk kedalam rumah juga banyak sekali orang di dalam.saat itu aku hanya diam dan memperhatikan orang-orang yang ada di rumahku,lalu nenek ku menghampiri ku dan mengatakan kepada ku bahwa ibuku terjatuh dari pohon saat sedang memetik labu siam yang merabat di pohon kelengkeng samping rumah ku dengan ketinggian kurang lebih sepuluh meter dan kepala ibuku terbentur dengan jalan beton yang tajam sehingga membuat kepala ibuku sedikit sobek tetapi mengeluarkan banyak darah.Kemudian aku digendong oleh nenek ku dan aku diajak oleh nenek ku ketempat dimana ibuku jatuh dan disitu masih ada darah yang tersisa di jalan beton tersebut.Aku hanya menangis ketika aku melihat darah ibuku yang ditutupi tanah oleh entah siapa yang menutup darah itu lalu aku di antarkan ke kamar dan melihat ayahku menangis kemudian ayahku menghampiriku dan memelukku aku yang melihat ayah dan kakakku yang menangis aku juga semakin sedih dan dalam hatiku terus bertanya dimana ibuku? Apakan dia masih hidup?.Aku yang mencari keberadaan ibuku tetapi tetap tidak menemukannya dan akhirnya aku pergi kekamarku dan entah apa yang terjadi sehingga menjadi gelap begitu saja.Entah berapa menit aku pingsan tiba-tiba aku dig ending oleh nenekku yang satu lagi dan di ajak untuk melihat ibuku yang sedang di gantikan pakaiannya oleh “Budhe”ku melihat bantal yang di gunakan untuk berbaring ibuku penuh darah aku kembali menangis dan saat itu aku hanya berpikir bahwa ibuku sudah meninggal.Tetapi setelah ibuku selesai digantikan bajunya kemudian ibukku dibawa menuju puskesmas yang lumayan jauh karena untuk sampai disana butuh waktu sepuluh sampai limabelas menit.Aku yang tidak ikut menghantarkan ibuku ke puskesmas hanya di rumah dan di temani oleh nenek ku dan beberapa saudara ku.Sore harinya aku di jemput oleh ayahku untuk pergi ke puskesmas dimana ibuku di rawat.Hampir tiga hari ibuku koma di puskesmas dengan jahitan di kepalanya,dan tiga hari itu juga aku terus menemani ibuku dan aku tidak mau pergi ke sekolah jika ibuku belum sembuh.Ayahku juga berbicara kepadadokter yang bertugas di puskesmas itu jika di hari keempat ibuku tidak sadar ayahku meminta agara ibuku di rujuk ke Rumah Sakit di Semarang.Tetapi malamnya saat aku dan ayah serta “budhe dan pakdhe” ku tertidur ibuku sadar dari komanya selama tiga hari itu dan aku yang mengetahui hal itu merasa senang karena ibu tidak meninggalkan ku terlalu cepat.Dan pagi harinya zku disuruh oleh ibuku untuk bersekolah dan aku menuruti permintaan ibuku.Di sekolah aku terus memikirkan ibuku,apakan ibuku akan sembuh?atau dia akan meninggalkan ku saat itu?.Di sekolah aku merasa tidak nyaman karena aku ingin segera bertemu dengan ibuku dan menemaninya.Dan saat pulang sekolah aku langsung menaiki mobil dan pulang menuju kerumah dan sesampainya dirumah aku bersih-bersih dan menggantu baju seragamku lalu berangkat dengan ayahku menuju puskesmas dan aku melihat ibuku yang keadaanya sudah lebih baik daripada beberapa hari yang lalu.Hampir seminggu ibuku berada di puskesmas itu dan semakin hari kondisinya semakin baik walau kadang ibuku merasa pusing.Dan setelah dokter mengijinkan ibuku untuk pulang maka kami yang menjaga ibu bersiap-siap membereskan barang yang di bawa dari rumah dan kami pulang dengan perasaan yang gembira karena ibukku masih di berikan kesempatan oleh Tuhan untuk berkumpul dan membimbing anak-anaknya.Sudah sudah sebelas tahun tragedy itu terjadi tetapi semakin bertambah usia ku jika aku mengingat hal itu aku merasa semakin sedih karena aku berfikir,apa yang terjadi saat ini jika waktu itu ibuku meninggalkan kami selamanya?.Dan apakah aku bisa bertumbuh seiring dengan berjalannya waktu tanpa sosok seorang ibu?.Karena di antara aku dan kedua kakakku aku adalah anak yang paling dekat dengan ibuku sampai saat ini dan sebesar ini aku masih lengket dengan ibuku hal apapun yang aku lakukan pasti aku meminta tolong kepada ibuku dan saat hendak pergi ke warung atau kemana pun aku selalu minta untuk di temani oleh ibuku karena aku merasa bahwa aku selalu  membutuhkan ibuku.Entah apa yang akan terjadi saat ini jika dulu ibu meninggalkan kami lebih cepat. Tetapi Tuhan berkehendak lain Tuhan masih memberikan kesempatan untuk ibuku agar dia  bisa berkumpul dan mendampingi anaknya saat ini,walau sampai saat ini kepala ibuku terkadang terasa sakit jika dia salah menggerakan kepalanya dan bekas jahitan dikepala ibuku sampai saat ini masih ada.Dan aku tetap berusaha membantu ibu dalam hal apapun itu walau terkadang dimata ibu itu salah dan tidak sesuai dengan harapannya,terkadang aku dimarahi olehnya,terkadang tertawa bersamanya,bebagi cerita sambil memasak adalah hal yang menyanangkan bagiku berasama ibuku.Aku sayang dengan ibuku.

Komentar